Showing posts with label Sahabat Nabi. Show all posts
Showing posts with label Sahabat Nabi. Show all posts

Thursday, July 26, 2012

Kisah Abu Hanifah dan Tetangganya

Majalah Muslim - 08/16/2002
Di Kufah, Abu Hanifah mempunyai tetangga tukang sepatu. Sepanjang hari bekerja,
menjelang malam ia baru pulang ke rumah. Biasanya ia membawa oleh-oleh berupa daging
untuk dimasak atau seekor ikan besar untuk dibakar. Selesai makan, ia terus minum tiada
henti-hentinya sambil bemyanyi, dan baru berhenti jauh malam setelah ia merasa mengantuk
sekali, kemudian tidur pulas.
Abu Hanifah yang sudah terbiasa melaksanakan salat sepanjang malam, tentu saja merasa
terganggu oleh suara nyanyian si tukang sepatu tersebut. Tetapi, ia diamkan saja. Pada suatu
malam, Abu Hanifah tidak mendengar tetangganya itu bernyanyi-nyanyi seperti biasanya.
Sesaat ia keluar untuk mencari kabarnya. Ternyata menurut keterangan tetangga lain, ia
baru saja ditangkap polisi dan ditahan.
Selesai salat subuh, ketika hari masih pagi, Abu Hanifah naik bighalnya ke istana. Ia ingin
menemui Amir Kufah. Ia disambut dengan penuh khidmat dan hormat. Sang Amir sendiri yang
berkenan menemuinya.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya sang Amir.
"Tetanggaku tukang sepatu kemarin ditangkap polisi. Tolong lepaskan ia dari tahanan, Amir, "
jawab Abu Hanifah.
"Baikiah," kata sang Amir yang segera menyuruh seorang polisi penjara untuk melepaskan
tetangga Abu Hanifah yang baru ditangkap kemarin petang.
Abu Hanifah pulang dengan naik bighalnya pelan-pelan. Sementara, si tukang sepatu berjalan
kaki di belakangnya. Ketika tiba di rumah, Abu Hanifah turun dan menoleh kepada
tetangganya itu seraya berkata,
"Bagaimana? Aku tidak mengecewakanmu kan?"
"Tidak, bahkan sebaliknya." Ia menambahkan, "Terima kasih. Semoga Allah memberimu
balasan kebajikan."
Sejak itu ia tidak lagi mengulangi kebiasaannya, sehingga Abu Hanifah dapat merasa lebih
khusyu' dalam ibadahnya setiap malam.
Sumber: Al-Thabaqat al-Saniyyat fi Tajarun al-Hanafiyat, Taqiyyuddin bin Abdul Qadir al-
Tammii
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia - Majalah Muslim

Wednesday, July 25, 2012

Kisah Ziyad Bin Abu Sufyan

Majalah Muslim - 08/23/2002
Sumiyah, ibunda Ziyad, adalah seorang wanita pelacur. Abu Sufyan bin Harb mengaku bahwa
dirinya satu-satunya lelaki yang menghamili wanita itu. Jadi dia ayah Ziyad.
Suatu hari Khalifah Mu'awiyah naik ke atas mimbar, dan menyuruh Ziyad untuk berdiri di
sampingnya.
"Saudara-saudara sekalian, sungguh aku sudah mengenal siapa Ziyad ini. Tetapi, siapa di
antara kalian yang memiliki bukti, silakan ajukan!" kata Mu'awiyah kepada para hadirin.
Semua yang hadir berdiri seraya memberikan kesaksian bahwa Ziyad adalah putera Abu
Sufyan. Oleh Mu'awiyah ia lalu diangkat sebagai penguasa Kufah merangkap Bashrah.
Pada hari penobatan Ziyad sebagai penguasa kedua wilayah tersebut diadakan upacara arak-
arakan yang cukup meriah. Seorang lelaki buta dari suku Bani Makhzum yang biasa dipanggil
Abul Urban ikut menonton di pinggir jalan.
"Siapa yang diangkat sebagai penguasa kali ini?" tanya Abul Urban kepada seseorang di
sebelahnya.
"Ziyad bin Abu Sufyan," jawabnya.
"Apa? Setahuku Abu Sufyan tidak punya putera bernama Ziyad," kata Abul Urban.
"Jadi, Ziyad siapa?" tanya orang itu.
"Sungguh banyak hal yang telah dirusak Allah, banyak rumah yang telah dirobohkan-Nya, dan
banyak budak yang telah dikembalikan-Nya kepada tuan-tuannya," jawab Abul Urban.
Seorang mata-mata kerajaan kebetulan mendengar ucapan Abul Urban tersebut. Ia lalu
melaporkannya kepada Mu'awiyah. Khalifah ini segera mengirim seorang kurir membawa
sepucuk surat berisi:
"Celaka kamu oleh ibumu. Setibanya suratku ini potonglah lidah laki-laki buta dan suku Bani
Makhzum itu jika ia berani mengatakan lagi kalau kamu bukan putera Abu Sufyan."
Ketika si kurir hendak mohon diri, Ziyad menitipkan uang sebanyak seribu dinar untuk
Khalifah Mu'awiyah, seraya berpesan:
"Sampaikan salamku kepadanya. Katakan kepadanya, aku baru bisa mengirim uang sejumlah
ini. Gunakan lebih dahulu! Kali lain aku akan mengiriminya lagi."
Dengan ditemani seorang pengawal, esoknya Ziyad menemui laki-laki tunanetra dari Bani
Makhzum itu.
Setelah mengucapkan salam, pengawal bertanya:
"Siapa orang yang bersamaku ini?"
"Dia pasti Ziyad bin Abu Sufyan," jawabnya dengan tegas.
Sepeninggal kedua tamunya, laki-laki tunanetra dari suku Bani Makhzum itu menangis seraya
berkata,
"Demi Allah, aku mengenal persis siapa Abu Sufyan."
Sumber: Muhadharat al-Asibba, al-Raghib al-Ashfahani - Majalah Muslim
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Monday, August 23, 2010

Aku Teringat

Ibnu Abi Al Dunya meriwayatkan dari sanad yang berasal dari Abdullah ibnu Umar, bahwa ia pernah meminum air dingin. Setelah meminumnya tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu. Lantas dia bertanya, "Apa yang membuat Anda menangis?" Dia menjawab, "Aku teringat dalam firman Allah SWT, "Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini." (Q.S. Saba': 54)