Saturday, February 25, 2012

Bidadari untuk Ikhwan Jilid 3


Jilid 2                                                                                                                                             Jilid 4
========================================================================
Aku keluar dari sekretariat dosen, dengan penuh kemenangan. Kemenangan awal
yang akan diikuti oleh perjuangan yang lainnya.
“Hey, Khalid! Gimana bimbingan dengan si Prof killer itu?” sapa Hendra, yang saat itu
berada disampingku.
“Alhamudillah, semua beres!” ucapku penuh kemenangan
“Wah, enak ya kalau aktivis” ujar Hendra
Aku tersenyum sambil mengatakan “makanya, kenapa dulu nggak jadi aktivis!”.
Belum tahu dia tentang perjuanganku untuk mempertahankan nama baik. Dan
belum tahu dia kalau keteganganku saat menghadapi Professor Susilo Nugroho bagaikan
tawaran untuk menikahi seorang akhwat, ucapku dalam hati.
“Kamu mau kemana sekarang, Lid?” tanya Hendra
“Mau, kesekretariat LDK! Kenapa? Mau ikut!” jawabku enteng
“Nggak! Sebenarnya aku ada perlu sama kamu, kalau kamu nggak repot!”
“Wah, ada perlu apa nich? Nggak kok, aku nggak repot!”
“Lid, gimana kita kalau duduk disitu!” Hendra menunjukkan tempat duduk di taman
fakultas hukum. Yang saat itu beberapa tempat duduk yang masih dipenuhi mahasiswa-
mahasiswi yang sedang berkumpul. Entah apa yang mereka lakukan.
Aku mengangguk setuju.
Setelah duduk di kursi paten beton. Hendra langsung mengatakan sesuatu yang
mengganjal hatinya “Sebenarnya gini Lid!” Hendra mengatakan tentang sesuatu yang
mengganjal pada hatinya. Sesuatu yang membuat dia resah. Membuat dia merasa
bingung harus ditanyakan kemana sebuah persoalan yang berada pada rongga pikirannya.
“Lid, aku mendapat SMS juga mendapat berita dari temanku. Akan ada sebuah
penyerangan besar yang ditujukan kepada orang-orang Kristen. Akan ada sweeping
besar-besaran yang dilakukan oleh umat Islam kepada orang-orang Kristen. Dan setiap
wanita Kristen akan diperkosa, laki-lakinya akan dibunuh!” ucap Hendra serius.
Hendra adalah seorang penganut Kristen yang sangat dekat danganku. Seorang
Kristen yang sangat mendukung tentang Hak Asasi dalam beragama. Seorang yang tidak
suka menghalalkan segala cara untuk menggapai tujuannya. Seorang yang toleran dalam
beragama.
“Boleh aku lihat SMSnya?” pintaku
Hendra langsung mengambil HPnya. Dan langsung memperlihatkan SMS gelap itu
kepadaku. “Assalamualaikum, untuk orang Islam semua. Seruan untuk mensweeping
umat Kristen. Kita habisi mereka. Kita perkosa wanita-wanitanya, kita bunuh laki-
lakinya. Jangan ada ampun kepada umat Kristen yang kita temui. BUNUH mereka.
Allahu Akbar 5x”
Setelah membaca SMS itu, aku tersenyum.
“Kenapa kamu tersenyum, Lid? Apa ada yang lucu?” terlihat Hendra merasa tersinggung
dengan senyumanku.
“Kawan, saat kamu memperlihatkan SMS itu dan aku tersenyum, bukan aku bermaksud
menyinggungmu. Tapi senyumanku tertuju pada si pengirim SMS itu. Karena
sesungguhnya perkataannya bukan seperti orang Islam yang beriman. Dalam Islam tidak
pernah dihalalkannya untuk membunuh siapapun bahkan umat agama lain. Selama tidak
ada suatu alasan yang syar’I, atau sebuah hukuman. Maka tidak diperbolehkan orang
Islam membunuh. Juga, bermaksiat dalam Islam sangat berdosa besar. Apalagi
memperkosa wanita. Masya Allah. Itu sangat diharamkan pada umat Islam. Karena Allah
sangat murka pada orang-orang yang bermaksiat. Sesungguhnya kawanku, umat Islam
jika mengucapkan takbir, itu terbiasa dengan 3x kali. Tapi disitu janggal, dengan
mengucapkan takbir 5x. Berarti, si pengirim SMS itu tidak mengetahui pasti tentang
kebiasan orang-orang Islam. Bukan berarti aku mengatakan si pengirim SMS itu orang
beragama lain, tetapi bisa juga orang yang mengirim SMS itu adalah orang-orang Islam
tetapi yang tidak beriman. Dan apakah engkau tahu? Bahwa aku tidak pernah dikirim
SMS yang berbunyi seperti itu. Padahal aku adalah termasuk orang-orang yang
memperjuangkan agamaku!” jelasku panjang lebar.
“Tapi umat Kristen diisukan, bahwa mereka telah memurtadkan orang Islam. Apakah isu
itu tidak membuat orang-orang Islam sangat membenci umat Kristen?”
“Kawanku, apakah engkau menyangkal bahwa umat Kristen tidak memurtadkan umat
Islam?” tanyaku balik kepada Hendra
Hendra menunduk lesu, setelah itu menghembuskan nafas panjang “Iya, aku akui. Bahwa
memang ada sebagian besar orang-orang Kristen yang menghalalkan segala cara untuk
memurtadkan orang Islam. Mereka berfikir bahwa umat selain Kristen, adalah domba-
domba yang tersesat. Aku sudah berungkali menolak dogma itu, kepada kalanganku. Tapi
apalah dayaku,” Hendra menghela nafas panjangnya, setelah itu dia melanjutkan
perkatannnya “Aku hanya seorang anak pendeta yang telah terasing dari agamaku sendiri.
Tetapi aku masih yakin bahwa dogma itu harus dirubah. Semua umat beragama adalah
orang-orang yang ber Tuhan. Dan semua orang beragama adalah orang-orang yang baik.”
“Kawan, bukan berarti jika umat Kristen memurtadkan umat Islam. Dan umat Islam
membenci umat Kristen semua! Sesungguhnya yang kita benci bukan umat Kristen
semuanya, tetapi kelakuan yang telah dilakukan oleh segelintir umat Kristen yang
menghalalkan segala cara untuk menempuh tunjuannya. Kawan, kita memang
diperbolehkan untuk bersyiar, kita memang diperbolehkan untuk berdakwah. Tetapi
tujuan kita adalah memberikan sebuah pengetahuan yang benar, tentang arti sebuah
kebanaran itu sendiri. Kita boleh memberikan sebuah bantuan kepada orang lain. Tetapi
kawan, kita harus ingat tentang keikhlasan. Keikhlasan adalah sebuah maksud tanpa ada
tujuan tertentu selain tujuan untuk diridho’I oleh Tuhan kita. Bukanlah itu sebuah
keIkhlasan, manakala kita membantu seseorang dengan tujuan untuk menarik mereka
menuruti apa yang kita inginkan. Ada sebuah hal yang menarik dari sebuah kisah dua
sahabat Rasulullah Muhammad Saw. Dia adalah Abu Bakar dan Bilal. Abu Bakar adalah
orang yang membeli seorang budak muslim yang saat itu teraniaya dengan harga yang
sangat mahal, dia adalah Bilal. Sungguh saat itu Bilal sudah dizalami oleh orang-orang
Quraisy. Dengan serta merta Abu Bakar membeli Bilal dengan harga yang sangat mahal
dari budak yang lainnya. Setelah itu Abu Bakar membebaskan Bilal dari perbudakan.
Pada suatu masa, yang pada saat itu Abu Bakar meminta dengan sangat kepada Bilal
untuk menuruti perintahnya. Dengan sangat rendah hati, Bilal mengucapkan
“sesungguhnya wahai sahabat Rasulullah, apa yang engkau inginkan dari pembebasanku.
Apakah engkau ingin aku menuruti perintahmu? Atau kah engkau membebaskan aku
dengan keIkhlasanmu kepada Allah. Jika engkau memerdekakanku agar aku menjadi
milikmu, maka lakukan apa yang engkau inginkan. Jika engkau memerdekakanku karena
Allah, maka biarkanlah aku.” Saat itulah Abu Bakar dengan rendah hati pula mengatakan
“Aku membebaskanmu karena Allah, Wahai Bilal!” sungguh ini adalah sebuah kalimat
keikhlasan yang sangat dalam. Tiada dari sebuah maksud keikhlasan melainkan hanya
kepada Allah lah saja. Jadi sebenarnya, bahwa umat muslim boleh memberikan bantuan
kepada umat Kristen. Tetapi umat Islam diharamkan memaksa umat Kristen untuk
mengikuti keinginan dari umat Islam. Dan seharusnya pun, begitu pula sebaliknya.”
Jawabku panjang lebar.
“Tetapi Khalid, apakah engkau menjamin bahwa tidak akan ada pensweepingan umat
Islam terhadap umat Kristen?” tanya Hendra ragu
“Kawanku, sesungguhnya Islam itu adalah agama damai! Dan sesungguhnya umat Islam
itu, umat yang damai. Tetapi jika umat Islam dizalimi. Tidak ada kata lain selain Jihad.
Aku menjamin bahwa tidak akan ada pensweepingan umat Islam terhadap umat Kristen.
Selama umat Kristen tidak melakukan sebuah kecurangan. Dan tidak akan ada
pembunuhan dan perkosaan terhadap umat Kristen, meskipun jika memang dilakukan
pensweepingan terhadap umat Kristen yang curang. Karena Islam mengharamkan cara
yang bathil. Insya Allah, Kawan.” Jawabku mantap
“Lid, terima kasih atas jawab-jawabmu! Sebenarnya aku sangat khawatir sekali. Aku
khawatir terjadi permusuhan antar agama. Aku tidak menginginkan adanya sebuah
pertikaian antar agama. Yang aku inginkan adalah, kita merdeka dalam memeluk setiap
agama kita. Tidak ada saling memaksakan kehendak dalam beragama. Dengan
berpedoman bahwa semua orang beragama punya hak yang sama dalam menjalankan
agamanya.” Ucap Hendra
Aku tersenyum, sambil mengatakan “Hen! dalam Al Qu’ran, surat Al-Kafirun “Dan aku
tidak pernah menjadi penyembah yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah pula
menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, untukmulah agamamu dan untukkulah
agamaku” jadi dalam Islam sudah diatur tata cara kehidupan beragama. Selama kita
saling menghormati dan saling memberikan toleransi. Maka tidak akan ada permusuhan
bahkan pertikaian antar agama.”
“Benar, apa yang kamu katakana Khalid! Seharusnya seperti itulah orang-orang yang
beragama. Mereka mengurusi agama mereka masing-masing. Dan apabila saling
memberikan bantuan. Seharusnya bantuan itu diberikan dengan keikhlasan. Tanpa ada
maksud yang lainnya selain untuk mendapatkan pahala dari Tuhan.” ucap Hendra.
Aku mengangguk setuju.
“Lid, atas nama agamaku. Aku meminta maaf atas perilaku segelintir orang Kristen yang
menghalalkan segala cara untuk memuaskan kehendak mereka sendiri”
“Iya, Hen! Sama, aku juga meminta maaf mungkin beberapa dari umat Islam yang begitu
agresif dalam mempertahankan agama Islam. Membuat kamu merasa tidak tenang. Tetapi
sebenarnya apa yang dilakukan oleh umat Islam, hanya untuk mempertahankan saja
bukan menyerang. Dan SMS yang kamu terima itu bukan SMS dari umat Islam. Karena
Umat Islam tidak akan melakukan tindakan sehina itu.” Ucapku
Aku jadi teringat pertemuan awalku dengan Hendra. Saat itu Hendra sangat
tersinggung, saat aku katakan bahwa umat Islam diharamkan untuk mengucapkan
selamat kepada agama lain. Termasuk selamat Natal. Hendra saat itu mengatakan “kalau
begitu Islam tidak memberikan sebuah toleransi beragama”. Sungguh inilah yang selalu
diucapkan oleh kalangan orang yang tidak mengerti Islam. Mereka merasa bahwa ucapan
selamat merupakan sebuah hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Mereka
merasa ucapan adalah sekedar penyejuk hati. Atau sebatas kata-kata yang menyenangkan
orang lain. Padahal, dalam Islam. Ucapan itu merupakan sebuah doa. Jadi umat Islam
seharusnya sangat berhati-hati dalam berucap. Apalagi mengucapkan selamat kepada
agama lain. Dengan santai aku menjelaskan. Bahwa sesungguhnya saat umat Islam
mengatakan selamat kepada agama lain. Maka sesungguhnya umat Islam mendukung
adanya agama tersebut. Padahal dalam ajaran Islam tidak ada sebuah agama yang benar
kecuali agama Islam. Jadi sebuah ucapan selamat berarti membenarkan sebuah agama
selain Islam. Dan itu sangat tidak diperkanankan. Dan ucapan selamat sudah merupakan
sebuah akhidah bagi umat Islam. Jadi jika dalam akhidah sudah tidak diperbolehkan.
Maka kita tidak boleh melakukannya. Seperti halnya umat Kristen yang disuruh umat
Islam untuk sholat Jum’at. Secara otomatis umat Kristen tidak akan diperbolehkan.
Karena itu adalah aturan umat Kristen. Begitu pula sebaliknya jika umat Islam tidak
diperbolehkan mengucapkan selamat Natal. Maka seharusnya umat Kristen mengetahui
bahwa itu adalah bagian dari ajaran umat Islam. Dan seharusnya umat Kristen lebih

toleran kepada umat Islam, dengan tidak mengharapkan ucapan selamat yang diucapkan
oleh umat Islam.
Dengan begitu seharusnya umat Kristen jika mengaku toleran kepada agama lain.
Maka selayaknya mereka tidak memancing-mancing mengucapkan selamat kepada umat
Islam saat hari-hari besar agama Islam. Agar tidak menimbulkan rasa dengki yang timbul
oleh umat Kristen dikarenakan umat Islam tidak mengucapkan selamat kepada umat
Kristen. Karena kita harus ingat, bahwa toleransi beragama itu adalah hal-hal yang
bersifat umum atau muamalah. Bukan toleransi yang bersifat abstrak yang menyangkut
akhidah.
Hendra akhirnya mengerti tentang arti toleransi itu sendiri. Bahkan Hendra
berkali-kali mengucapkan, toleransi umat Islam lebih besar ketimbang toleransi
agamanya sendiri. Sudah lima tahun aku bersahabat dengan Hendra. Sehingga aku tahu
sifat seorang sahabatku itu. Meskipun kami berlainan keyakinan. Tapi kami mampu
memberikan sebuah aktulisasi tentang toleran itu sendiri. “Bukanlah itu sebuah toleransi
beragama, jika toleransi itu menginjak-ngijak keyakinan agama lain dan memaksa
menuruti kehendak dari apa yang kita yakini” itulah perkataan Hendra pada saat itu..
Tak lama setelah perbincangan kami. Pandanganku menangkap seorang wanita. Wanita
yang menggelisahkan hatiku. Wanita yang pernah aku lihat berjalan dihadapanku. Aku
benar-benar terpana melihat wanita itu. Benar-benar cantik. Sungguh benar-benar cantik.
Aku tak menyangka semua ilmuku sirna. Sirna dengan memandang wanita cantik
didepan mata ini.
“Lid, Khalid. kamu melamun! Ada apa?” tanya Hendra dengan memegang bahuku.
“Astagfirllah” ucapku lirih. Disertai ucapan “Subhanallah. Ya Allah sungguh
kebesaranmu menciptakan wanita secantik dia” ucapku dalam hati.
Hendra membalikkan badannya kebelakang. Yang pada saat itu duduknya masih
berhadapan padaku. Serta merta Hendra tersenyum. Lalu berucap “Lid, itu Nova.
Temanku di UK3 (Unit Kerohanian Kristen Katolik)”
“Oh.” Aku hanya mengangguk pelan saat itu
Tak lama Nova mendatangi kami berdua. Wanita yang aku kagumi kecantikannya
mendatangiku. Sungguh aku tidak percaya, dia sekarang berada dihadapanku. Tepat
didepanku.
“Hendra, kamu dicari Wiwid tuh!” ucapnya kepada Hendra.
“Oh, dimana dia sekarang?” Tanya Hendra
“Dikantin Fakultas Ekonomi!” ucapnya lirih.

“Oh ya, kenalin nich! Temanku” sambil menunjukku
Tak lama dia tersenyum. “Subhanallah, senyumnya cantik sekali” ucapku dalam hati.
Aku membalas senyumannya.
“Nova, Maria Nova lengkapnya!” ucapnya sambil menyodorkan tangannya kepadaku
untuk berjabat tangan.
Tangannya putih sekali. Seputih iklan produk pemutih. Jiwa ini berontak
menerima atau menolak uluran tangannya. Perjuangan akhidah dan nafsu tumpang tindih.
Sungguh, benar-benar inilah yang disebut ujian. Ujian untuk menaikkan tingkat
keimanan. Mungkin karena hal inilah, akhirnya tercipta Liberalisasi Islam. Karena nggak
kuat untuk menyentuh tangan yang putih bersih dan sangat halus.
“Khalid, Khalid Hendriansyah lengkapnya” balasku dengan merapatkan kedua telapak
tanganku kearah dada.
Dengan serta merta Nova menarik tangannya kembali, serta merapatkan kedua telapak
tangannya kearah dadanya. Dia terlihat mengerti apa yang aku maksud.
“Nova ini ketua UK3 loh, Lid!” ucap Hendra dengan nada suara yang bermaksud
tertentu. Entah apa maksudnya, mungkin dia memperingatkanku untuk berhati-hati
dengannya.
Nova saat itu hanya tersenyum simpul.
“Khalid, aku tahu kamu! Kamu adalah aktivis LDK kan?” ucap Nova
Aku tersenyum lalu berkata “iya, kok kamu tahu? Apakah kita pernah ketemu?”
“Iya, kita pernah bertemu! Disuatu tempat, ingat-ingatlah kembali!” jawabnya penuh
maksud yang tersembunyi
“Hem, dimana yach?” tanyaku penuh tanda tanya.
“Ada deh! Pikir dulu aja. Oh ya udah dulu yach, aku masih ada keperluan lagi. Aku tadi
hanya menyampaikan pesannya Wiwid aja kok!” ucap Nova
Saat Nova akan meninggalkan aku dan Hendra. Tatapan matanya terlihat sendu
mengharapkan sesuatu kepadaku. Entah apa itu. Aku tak tahu, karena aku langsung
menundukkan pandanganku.
“iya, hati-hati yach! Kalau ketemu Wiwid bilang, bentar lagi aku kesana. Aku masih ada
urusan sama Khalid” ucap Hendra.
Dewi Aphrodite telah meninggalkanku. Tetapi kecantikannya masih terbayang dalam
rongga pikirku.
“Khalid,” panggil Hendra
“Iya apa Hend!” ucapku
“Cantik, yach?” ucap Hendra
“Siapa?” ucapku berlagak tidak tahu. Meskipun aku tahu yang dimaksud adalah Nova.
“Ah, kamu. Sok! Nova maksudku” ucap Hendra mempertegas
Aku tersenyum, “iya, cantik! Kenapa?” tanyaku balik
“Lid, aku kasihan kepada Nova!”
“Kasihan kenapa?”
“Nova, adalah anak dari Pendeta Joseph”
“Hem! Lalu kenapa?” tanyaku penasaran
“Aku kenal Nova sejak kecil, Lid! Dan rumah Nova berada di sebelah rumahku. Pendeta
Joseph adalah teman Papaku, Lid. Pendeta Joseph sering memukul Nova, jika Nova tidak
mau mengikuti perintah dari Pendeta Joseph. Kamu tahu nggak Lid. Pernah suatu kali
Nova akan dinikahkan sama seorang pengusaha tua kaya yang beragama Islam. Dengan
janji bahwa jika nanti Nova dinikahi, maka Pengusaha itu akan ikut beragama Kristen.
Kamu tahu kan, Lid! Kecantikan Nova memang begitu merona!” ujar Hendra
“Lalu, gimana. Nova jadi nikah dengan pengusah itu?” tanyaku
“Nggak jadi, Lid!”
“Loh, kenapa?”
“Iya, saat itu Nova menolak keras. karena menolak Nova telah dipukul habis-habisan
oleh Pendeta Joseph. Dan keluarganya mengucilkan dia. Nova pernah disekap dalam
kamarnya. Karena kamar Nova berhadapan dengan kamar adikku yang perempuan.
Sehingga aku bisa melihat kondisi Nova pada saat itu. Benar-benar kasihan dia,.
Pakaiannya lusuh, dan dia tidak diberikan makanan apapun. Tapi aku dan adikku sering
melemparkan roti kering dan air kemasan kearah kamarnya. Aku akhirnya mempunyai
inisiatif untuk menyelidiki pengusaha tua tadi. Setelah aku dan teman-teman selidiki.
Ternyata pengusaha tadi mempunyai seorang istri. Setelah kami selidiki, akhirnya kami
tahu kalau sebenarnya kekayaan dari pengusaha itu adalah kekayaan isterinya. Dan saat
itu pun kami memberitahukan kelakuan pengusaha tua itu. Pengusaha tua itu
mengurungkan niatnya untuk memperisteri Nova.” Cerita Hendra dengan serius.
“Hem..!” aku cuma manggut-manggut
“Dan akhirnya, Nova bisa sedikit bernafas lega. Tetapi kayaknya akan ada rencana lain
yang akan dilakukan oleh pendeta Yoseph. Entah itu rencana apa? Aku tak tahu!” ucap
Hendra bingung.
“Hem...! Ya.. sudahlah kita cuma bisa berdoa saja, semoga rencana itu bukan rencana
yang buruk.” Ucapku.
“Sebenarnya, aku juga mau cerita sesuatu kepadamu Lid!”
“Apa, Hend? Masalah tadi? Atau masalah Nova lagi!”
“Ini bukan masalahku yang tadi Lid! Tetapi ini masih ada hubungannya dengan Nova!”
“Apa itu Hen?” tanyaku
“Gini Lid, di UK3 sedang merencanakan program Baksos (Bakti Sosial) ke desa-desa
kumuh. Aku nggak suka dengan program mereka Lid!”
“Loh, kan bagus Hen!” selaku
“Bagus sih bagus. Tapi ada yang janggal dari Baksos itu! Kenapa yang melakukan
Baksos adalah orang-orangnya pendeta Yoseph. Yang aku sesalkan Baksos itu atas nama
dan dana dari kampus. Nah ini kan nggak etis. Seharusnya kalau itu Baksosnya UK3, ya
seharusnya kan mahasiswa-mahasiswi anggota UK3. Bukannya anak buah pendeta
Yoseph. Nah ini yang janggal. Lid. Dan ini sudah dilaksanakan oleh mereka.” Tutur
Hendra serius.
“Oh, jadi seperti itu yach!” ucapku sejenak. Aku jadi teringat cerita bang Jamal dan bang
Dadang kembali. Didesa binaanku juga sedang didatangi orang-orang yang aneh. Aneh
dengan cara pengajaran dan ajarannya. Kalaulah mereka beragama Islam, ajaran mereka
memang mengajarkan Islam. Tetapi paham dari ajaran mereka sangat bertentangan
dengan Islam. Bahkan bisa dikatakan menghina Islam. Aku benar-benar ragu dengan apa
yang diajarkan oleh orang-orang asing itu. Apakah memang mereka benar-benar
mengerti tentang Islam. Ataukah mereka ingin merusak agama Islam. Aku jadi teringat
gadis yang berjilbab itu. Aku jadi teringat wajahnya, wajahnya seperti tak asing lagi
bagiku. Dia seperti?. Oh iya benar. Dia seperti Nova. Benar-benar wajahnya seperti
wajah Maria Nova. Apakah benar dia Maria Nova?. Benar tak salah lagi bagiku. Baik
nanti aku akan minta tolong Deni, si pakar computer itu! Untuk mencocokkan wajah
gadis berjilbab itu dengan Nova gumamku dalam hati.
“Khalid, kamu melamun lagi! Ada apa Lid?”
“Oh, nggak Hen! Aku cuma lagi mengingat-ingat aja kok!” jelasku
“Apa yang sedang kamu ingat-ingat, Lid?”
Aku hanya tersenyum sambil mengatakan “Ada deh!”
Seketika itu, aku jadi teringat hari ini aku ada kajian. “Hen, sorry! Aku ada perlu
sekarang. Aku ada janji dengan Ustadku. Besok kita lanjutkan lagi ngobrol kita” ucapku
terburu-buru
Hendri tersenyum sambil mengatakan “Ok, Lid! Ya, besok kita lanjutkan.”
Sebelum berangkat ke rumah Ustad Fadlan, aku harus mengambil beberapa buku catatan
dikontrakanku.
***
Perjalanan menuju rumah ustad Fadlan memang agak jauh. Sekitar 4 kilometer
dari tempat kontrakanku. Karena aku nggak punya kendaraan, jadi aku harus berjalan
kaki menuju rumah ustad Fadlan. Meskipun capek, tapi aku yakin bahwa ada perhitungan
tersendiri dari Allah swt, untukku. Tapi sebenarnya, untuk berjalan 4 kilometer masih
belum ada apa-apanya dibanding dengan rumahku yang ada didesa. Saat aku kecil. Aku
dan teman-temanku bahkan sering melihat pasar reboan di alun-alun kota, yang berjarak
10 kilometer dari desaku. Jadi perjalananku kerumah ustad Fadlan masih aku anggap
belum ada apa-apanya. Pernah suatu kali ustad Fadlan menawari aku sepeda mininya
untuk aku bawa. Mungkin sebelum aku diberitahu oleh teman-temanku tentang
kehidupan keluarga ustad Fadlan. Pasti aku akan menerimanya. Tetapi sejak aku
diberitahu dan melihat sendiri kehidupan keluarga ustad Fadlan. Aku jadi semakin
bertambah keimananku.
Sebelum mempunyai rumah yang layak dihuni. Ustad Fadlan adalah seorang
penjual buku-buku Islami. Dan istrinya, Ustadzah Heni. Adalah seorang guru madrasah.
Mereka berdua sangat tawadhu’ dalam menjalani kehidupan. Hingga bahkan sampai saat
ini. Saat mereka berdua sudah mempunyai tempat tinggal yang layak huni, juga beberapa
kekayaan yang diamanahkan kepada beliau berdua. Mereka tetap tawadhu’ dalam
kehidupan. Beliau terlihat tidak pernah lalai dalam mengelola kekayaan hartanya. Bahkan
sepeda mini yang akan diberikan kepadaku adalah sepeda yang setiap harinya dipakai
oleh Ustadzah Heni untuk mengajar di madrasah. Aku benar-benar tidak tega jika harus
menerima pemberian ustad Fadlan. Biarlah kakiku berjalan saat ini, tapi aku akan
berlarian disurga nanti. Berlarian dengan menggunakan kendaraan yang ada disurga
nanti. Semoga, saja.
Siang ini matahari begitu terik. Deru laju motor dan mobil lalu-lalang
disampingku. Debu-debu berhamburan, menerpaku. Membuat langkah kakiku terasa
berat, tetapi aku yakin bahwa ini tidak seberat saat sahabat-sahabat Rasulullah diuji oleh
Allah dengan siksaan kaum Quraisy. Seberat seorang yang menginginkan kesyahidan.
Apalagi tidak seberat batu panas yang ditindihkan kaum Quraisy ditubuh Bilal.
Subhanallah. Langkah kakiku terus melaju menuju deru ilmu yang menunggu. Melaju
pada setiap langkah yang berpahala. Tetap dengan terik yang menyengat kulit.
Saat kaki melangkah, saat tubuh lelah dan saat-saat mentari bersinar terik. Mata
ini memandang pada tubuh kecil. Tubuh hitam legam dengan pakaian yang dekil.
Berusaha untuk meraih harapan dengan berjalan meminta-minta pada setiap mobil dan
motor yang berhenti. Tidak biasanya. Yang aku tahu, diperempatan itu tidak pernah ada
seorang anak kecil yang berada disitu. Tubuh kecil itu sesekali mengusap ingus yang
mengalir pelan dihidungnya. Tak jarang seseorang yang melewatinya, memberikan belas
kasihan kepada dia. Tapi banyak juga yang tidak berempati kepadanya. Seiring dengan
langkah kakiku, anak itu masih tetap dalam naungan sang surya. Sebenarnya aku ingin
mendekatinya, bertanya asal-usulnya dan sekedar untuk memberitahukan bahwa ada yang
perduli dengannya. Tetapi saat itu aku urungkan. Karena aku mempunyai janji pada diri
sendiri, janji untuk memperoleh ilmu lebih dalam lagi. Dan janji pada ustad Fadlan untuk
selalu hadir dimajelisnya, majelis ilmu para pencari kebenaran. Aku putuskan, untuk
menghampiri anak surya itu setelah pulang dari Liqo’ nanti.
Rumah ustad Fadlan sudah tak jauh lagi, tinggal beberap blok saja aku sudah
sampai pada rumah ilmu itu. Rumah yang dihiasi oleh keindahan ajaran Islam
didalamnya. Rumah yang terbina dan sakinah pada para penghuninya. Sungguh benar-
benar rumah idaman.

Mohamad Hasan Al Banna

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment