Tuesday, October 12, 2010

Kata "Mereka": Punya Istri Aktivis?? Ogah Ah!!!

"Kata "Mereka" Tentang Istri yang Aktivis"
(sumber: curhatan dari beberapa sahabat)

Bermula dari obrolan ringan empat orang akhwat di kontrakan seputar kegiatan masing-masing (semacam setor hikmah gitu deh). Pelajaran apa yang didapat selama beraktivitas seharian. Kegiatanya macem-macem. Ada yang sibuk bersih-bersih rumah, masak, nyuci, ngepel, nyetrika. Ada yang menghabiskan dua novel dalam sehari. Ada juga yang punya urusan di luar rumah. Dan ane, setelah asyik ngobrol ma temen-temen, ni tangan jadi gatel pengen nulis hasil diskusi (yang akhirnya jadilah tulisan ini^_^), soalnya, di sela-sela obrolan kami, masuk sebuah topik bahasan yang cukup menarik. Tentang apa? Simak perbincangan berikut:


Akhwat 1: Capek juga ya. Liburan gak liburan sama aja. Banyak agenda.

Akhwat 2: Namanya juga aktivis, ya kudu aktif donk, Dek…

Akhwat 1: Oh ya, menurut Mbak2nya, ikhwan mau gak punya istri aktivis?

Akhwat 3: Ya mau laaah, kenapa nggak? *dengan penuh keyakinan dan nada tinggi.

Akhwat 4: Belum tentu juga lho Ukh. Ada ikhwan yang gak mau sama akhwat aktivis, maunya sama akhwat yang biasa-biasa aja.

Akhwat 1: Yap! Sepakat Mbak. Mereka lebih suka tipe akhwat “rumahan” karena dah fitrahnya, laki-laki itu gak mau dikalahkan. Mereka kan Qowwam, gengsi donk kalo si istri terlalu banyak mengambil peran dalam kerajaannya. Kalo istrinya yang lebih aktif di luar, ada perasaan “dikalahkan”, “diremehkan”, kurang diperhatikan, dan takut kehilangan! So, lebih baik di rumah aja deh. Cari nafkah kan tugas suami. Istri, di rumah noh bersih-bersih, nyuci, jagain jundi, dan menyambut kepulangan sang kekasih dengan senyum berseri. Hihi..

Kira-kira begitulah penggalan percakapan kami. Karena rasa penasaran dan keingintahuan ane yang sangat tinggi (tsaah), bertanyalah ane tentang hal ini kepada seorang ikhwan (hayooo..siapa tuuh? Emang berani nanya ke ikhwan?). Ya berani laaaah! Wong ikhwannya kakak ane sendiri. Heheh…

Ini dia cuplikan pertanyaannya:

Ane: Kak, pengen punya istri yang gimana sieh?

Kk: Pastinya akhwat sholihah yang mau nerima kakak apa adanya.

Ane: Yee…itu mah ane dah tau. Umum banget kalee. Lebih spesifik donk. Kalo sama akhwat aktivis mau gak?

Kk: Hmm..Aktivis ya? Ga papa sieh. Asal, kalo nanti dah jadi istri kakak, aktivitasnya dipindah alihkan ke rumah saja.

Ane: Ooo..gitu ya? hmm…

Dari jawaban singkat kakak ane tersayang itu, seolah-olah ada seberkas cahaya terang yang memasuki alam pikiran ane dengan membawa setitik pencerahan bagi jiwa yang diselimuti rasa bejibun pertayaan. “Ooo..ternyata, kebanyakan ikhwan sukanya sama akhwat rumahan”, kata ane pada diri sendiri.


Jadi inget diskusi via chatting bersama seorang ikhwan yang sudah ane anggap sebagai “Guru” karena beliau memang Ustadz ane. Beliau sering mengisi training di acara-acara dakwah sekolah dan LDK di kampus ane. Usianya-pun jauh di atas ane (jauh gak ya? Wah, belum nanya)

Ustadz: Kalau sudah lulus kuliah mau berkecimpung di dunia apa?

Ane : Pengennya sih jadi penulis Pak, jadi bisa lebih banyak waktu di rumah, hobby juga! Yaah, selain ngajar tentunya. Kan calon Guru Pak.

Ustadz: Bagus tuh!

Ane : Dengan jadi Guru ane bisa memaksimalkan dakwah sekolah di Kota ane Pak.

Ane : Yaah, bantu2 adek di rohis gitu. Lagian, selain di dakwah kampus, ane juga enjoy di dakwah sekolah. Seneng aja kalo masuk ke dunia anak muda, berasa jadi remaja lagi. Hehe..

Ustadz: Saya dukung.

Ane : Tapi, kayaknya ane mau dimasukin ke ranah siyasi deh Pak.

Ustadz: Lebih baik jangan. Jadi Guru aja.

Ane : Lho, kenapa Pak? Bukankah politik juga butuh akhwat?

Ustadz: Iya, tapi biarkan peran itu diambil yang lain saja. Anti fokus di Pendidikan saja.

Ustadz: ‘afwan, itu hanya saran dari saya

Hmm…makin terbuka bukan?

Ah, ane masih belum puas. Bukti kurang. Kalo dijadikan penelitian, analisis datanya belum valid. Wong sampelnya aja masih segelintir orang. Rasa ingin tempe ane semakin menjadi (iya, lagi ngidam tempe neh!).

Informan ane kali ini adalah seorang akhwat aktivis kelas berat (ralat: kalo gitu bukan informan dunk, tapi inforwati. Hah? Emang ada?). Saking beratnya (maksudnya bukan kegemukan, tapi jam terbangnya yang cukup tinggi, aktivis kelas berat gitu loch), di usia yang sudah melewati seperempat abad ini, Mbaknya belum juga menikah. Dengan ditemani dua orang teman akhwat, kami memberanikan diri untuk mengajukan pertanyaan itu secara pribadi tanpa basa-basi. Untungnya, si Mbaknya mau membuka diri (maksud ane, tipe akhwat ekstrovert gitu deh).

Temen Ane: Mbak, ‘Afwan nih, sebelumnya udah pernah ta’aruf nggak Mbak?

Mbaknya: Ta’aruf? Alhamdulillah, dah enam kali dek…

Ane dkk : Whaaattzz?? *ekspresi kaget campur heran campur takjub. Whuuih..enam kali? Qwereent..!! (kayaknya, bukan suatu hal yang patut dibanggakan deh, Da!)

Temen Ane: Kenapa bisa sampe enam kali Mbak? Nggak ada yang cocok ya?

Mbaknya: Ya, karena ikhwannya kaget waktu baca data Mbak. Setelah tau aktivitas Mbak yang memang sangat padat, si ikhwan mundur secara teratur. *senyum..

Ane : Ikhwannya gak PeDe kali Mbak..

Mbaknya: Mungkin. Banyak koq akhwat yang bernasib sama. Bahkan ada teman Mbak yang cerita. Saat tiba di depan rumah teman Mbak itu, si ikhwan langsung balik kanan dan ngambil jurus langkah seribu. Nyalinya ciut mengingat sepak terjang dan keaktifan calon yang akan dikhitbahya. Tapi keburu dikuatkan lagi sama MRnya, akhirnya mereka jadi menikah dan bahagia.

Temen Ane: Jadi, ketika dihadapkan dengan situasi seperti itu, ikhwan minder ya Mbak?

Mbaknya: Bisa jadi. Mungkin juga perasaan “takut ditolak” menghantui para ikhwan karena mereka pikir, akhwat yang sudah punya gelar, pekerjaan, hidup mapan, mandiri, dan lebih dewasa terlalu pilih-pilih dan sangat idealis. Padahal gak semuanya seperti itu. Ikhwannya aja yang mundur sebelum maju (maksudnya?). Dengan kata lain, menyerah sebelum bertanding.

Ane dkk: *aksi manggut-manggut sambil berkoor “Oo..” berjamaah.

Dan masih banyak lagi kisah-kisah lain yang ane temukan mengenai topik ini. Intinya (dari tadi intinya mulu!). Makin jelaslah kalo ternyata, kebanyakan ikhwan (tanpa maksud mengeneralisasikan) menginginkan tipe akhwat “rumahan” yang penuh dengan kelembutan dan keibuan.


Katanya si ikhwan aja, “Wah, rejeki tuh kalo dapat yang sholihah, keturunan bangsawan, hartawan, cerdas, cantik pula! Mau dookz!!” tapi, ketika data akhwat itu sudah ada dalam genggaman, eeh, keder juga si ikhwan! Kemudian, dia berkata dengan degupan hati yang coba ditahan-tahan, “Kalo pilihan saya sih yang gak terlalu ‘Wah’, tapi juga gak ‘Ah’. Gak terlalu ‘Wih’ tapi juga gak ‘ih’..!”

Hmmm...   BENER GAK SIEHH ????

Sumber : Ruang Muslim

Mohamad Hasan Al Banna

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

6 comments:

  1. @Anonymous: hayo ente milih yg mana nih ^^

    ReplyDelete
  2. saya pilih akhwat rumahan aja....
    yang dominan di rumah,
    tapi tetap bisa beraktivitas/ berdakwah juga.
    tapi hatinya lebih terpaut ke rumahnya
    karena tanggung jawabnya lebih besar ada di sana....

    insya Allah...
    Mohon doanya ya.

    ReplyDelete
  3. @Anonymous: Yap, sama saya juga <<< hayo loh ada akhwat aktipis yg lg baca koment ini :)

    klo disuruh milih ya saya lebih memilih yg lebih dominan dirumah nanti tapi juga tetep diperbolehkan untuk aktifitas/berdakwah diluar rumah jg akan tetapi yg lebih penting mendakwahi calon anak2nya kelak ^^

    Insya Allah

    Sama2 mendoakan Pak Anonymous, rencananya mau brp tahun lg? dah ada 'calon'nya?

    Ada Anonymous lain yg mau lanjut berkomentar?
    Atau ada yang lainnya?

    ReplyDelete
  4. ooh gitu, paham2 ^^
    tapi misal aktivis dakwah akhwat untuk akhwat pula gimana?
    apa mending jangan jadi aktivis dakwah?
    atau gimana? mohon saran ^^

    ReplyDelete
  5. @Always Dzikrullah: "aktifis dakwah akhwat untuk akhwat pula" <<< ini maksudnya gmn ya?

    Dakwah dimanapun gak masalah kan? apalagi setiap orang pastinya menjadi pendakwah untuk dirinya sendiri ^^

    ReplyDelete