Friday, July 13, 2012

"Partikel Tuhan" dalam Pandangan Islam (1)

"Partikel Tuhan" dalam Pandangan Islam

Majalah Muslim1. Kemustahilan Mengetahui Dzat Tuhan

Sesungguhnya hakikat dzat Tuhan tidak dapat diketahui oleh akal. Akal tidak akan mampu mengetahui hakikat-Nya. Sebab dzat Tuhan memang tidak dapat dijangkau oleh akal pikiran. Manusia tidak dibekali sarana untuk menjangkaunya.

Sesungguhnya akal manusia meskipun kecerdasan dan kemampuannya untuk mengetahui sesuatu telah mencapai puncaknya, namun ia sangat terbatas dan sangat lemah untuk mengetahui hakikat berbagai hal.

Akal tidak mampu mengetahui (hakikat) jiwa manusia itu sendiri. Pengetahuan tentang jiwa masih merupakan salah satu persoalan yang sulit dipecahkan oleh ilmu pengetahuan maupun filsafat. Akal tidak mengetahui hakikat cahaya. Padahal cahaya merupakan barang yang paling tampak dengan sangat jelas.

Akal tidak mampu mengetahui hakikat benda dan hakikat atom yang menjadi unsur pembentuk benda-benda tersebut. Padahal benda merupakan barang yang sangat erat hubungannya dengan manusia.

Ilmu pengetahuan manusia sampai saat ini masih tidak mampu menguak banyak hal tentang hakikat alam semesta ini, dan tidak mampu berbicara tentang hal itu secara pasti.

Seorang ahli falak terkenal, Kamil Flamaryun, dalam bukunya “Kekuatan Alam Yang Misteri” berkata: “Kami melihat diri kami sedang berpikir. Namun apa itu berpikir? Tidak seorang pun dapat menjawab pertanyaan ini, dan kami melihat diri kami sedang berjalan. Akan tetapi apa sebenarnya kerja otot itu? Tidak seorang pun dapat mengetahui hal itu.”

Aku memandang bahwa keinginanku merupakan suatu kekuatan immaterial, dan bahwa semua karakteristik diriku adalah juga immaterial. Disamping itu, setiap aku berkeinginan untuk mengangkat lenganku, maka aku memandang bahwa keinginanku dapat menggerakkan materi diriku. Namun bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa kiranya yang menjadi perantara atau menjadi penghubung bagi kekuatan akal dalam menimbulkan suatu hasil yang bersifat kebendaan (berupa gerakan fisik)?

Jelas tidak ada orang yang mampu menjawab pertanyaanku ini. Bahkan coba jelaskan kepada saya bagaimana urat syaraf penglihatan mengirimkan gambar segala sesuatu kepada otak? Terangkan kepada saya, bagaimana akal dapat mengetahui hal ini? Dimana tempat tinggalnya akal pikiran? Dan bagaimana pula tabiat kerja otak itu? Coba katakan kepada saya wahai tuan-tuan (yang dimaksud adalah orang-orang yang mengingkari adanya Tuhan). Akan tetapi pertanyaan saya kiranya telah cukup. Saya mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada tuan sepuluh tahun, dan saya yakin bahwa kepala yang terbesar diantara tuan-tuan tidak akan mampu memberikan jawaban terhadap pertanyaanku yang terkecil sekalipun?

Bila posisi akal demikian keadaannya dalam menghadapi persoalan hakikat jiwa manusia, cahaya, materi dan segala sesuatu yang ada di alam jagad raya ini, baik yang dapat dilihat maupun yang tidak dapat dilihat, lantas bagaimana mungkin ia akan mengetahui Dzat Pencipta Yang Maha Luhur keadaan-Nya, dan berusaha untuk mengetahui hakikat-Nya?

Sesungguhnya Dzat Allah terlalu besar untuk dapat diketahui oleh akal manusia atau dijangkau oleh akal pikiran.

Betapa tepatnya firman Allah:

“Dan tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am [ 6] : 103)

 2. Ketidakmampuan Mengetahui Hakikat Sesuatu Tidak Berarti Menafikan Keberadaannya

Keterbatasan akal pikiran, kelemahan untuk mengetahui hakikat sesuatu, dan ketidakmampuan akal untuk mengetahui hakikat jiwa manusia tidaklah berarti menafikan keberadaannya. Kelemahan akal untuk mengetahui hakikat cahaya tidak berarti menafikan adanya cahaya yang memancar di berbagai ufuk. Kelemahan akal pikiran untuk mengetahui hakikat atom tidaklah menunjukkan bahwa atom-atom yang membentuk benda-benda itu tidak ada. Demikian pula semua benda yang tidak mampu diketahui hakikatnya oleh akal pikiran manusia.

Demikian pula mengenai Dzat Tuhan. Bila manusia tidak mampu mengetahui hakikatnya, maka tidak berarti bahwa Dia tidak ada, bahkan Dia ada dan keberadaan-Nya jauh lebih kuat dari segala yang ada.

Sesungguhnya eksistensi Dzat Tuhan Yang Maha Suci itu merupakan aksiomatika dan dapat diterima oleh akal pikiran. Hanya orang sombong saja yang menuntut pembuktian atas keberadaan Tuhan, karena perkara ini merupakan aksiomatika dan sudah diterima oleh akal pikiran. Bagaikan orang buta yang menuntut bukti atas adanya matahari di siang hari bolong. Meskipun demikian kami akan mengemukakan bukti-bukti yang dapat membimbing manusia kepada kebenaran dan menyingkapkan arah tujuan yang benar.

3. Alam Semesta Menegaskan Eksistensi Tuhan Pencipta

Sesungguhnya eksistensi Allah itu merupakan suatu hakikat atau fakta yang tidak diragukan dan tidak ada celah untuk mengingkarinya. Wujud Allah sangat nyata dan terang bagaikan terang-benderangnya matahari dan cemerlang bagaikan cahaya fajar yang merekah di pagi hari yang cerah.

Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini menjadi saksi atas keberadaan Tuhan pencipta. Benda-benda alam dan segala unsur-unsurnya menegaskan bahwa itu semua ada yang mencipta dan mengaturnya. Jagad raya dengan segala isinya, seperti matahari, bulan, bintang-bintang, dan planet-planet, serta alam semesta seperti bumi dengan segala macam isinya, seperti manusia, binatang, tumbuhan, dan benda-benda padat, juga adanya keterikatan yang kuat dan keseimbangan yang cermat yang mengatur dan menyerasikan antara alam-alam ini, itu semua tiada lain adalah merupakan bukti adanya Allah dan hanya Dia semata yang menciptakan. Akal sama sekali tidak dapat membayangkan bahwa benda-benda ini semua tidak akan ada tanpa Dzat yang menciptakannya, sebagaimana akal tidak dapat membayangkan adanya barang buatan tanpa ada yang membuat.

Apabila akal manusia menganggap mustahil terbangnya pesawat di udara atau menyelamnya kapal selam di lautan tanpa adanya pembuat pesawat dan pembuat kapal, maka hal ini menetapkan secara pasti akan kemustahilan adanya alam yang sangat indah ini tanpa adanya pencipta yang menciptakannya dan tanpa adanya pengatur yang mengatur urusannya.

Ada tiga macam kemungkinan yang dapat kita kemukakan dalam menerangkan asal mula terjadinya alam semesta ini, dan tidak ada teori lain di balik tiga macam kemungkinan itu.

Pertama : Bahwa alam semesta ini muncul dari tidak ada, kemudian muncul dengan sendirinya.

Kedua : Bahwa alam semesta ini terjadi secara kebetulan belaka. Yakni faktor kebetulan inilah yang memunculkan alam yang indah ini.

Ketiga : Di sana pasti ada pencipta yang menciptakan alam semesta ini.

Mari kita mendiskusikan masing-masing dari kemungkinan-kemungkinan ini.

Kemungkinan yang pertama jelas tidak berdasar. Hal ini dikarenakan musabbab (akibat) itu berhubungan erat dengan sebab-sebabnya. Begitu juga natijah (hasil) itu bergantung pada muqoddimahnya (premise). Akal tidak dapat membayangkan adanya musabbab (sesuatu yang disebabkan) tanpa sesuatu sebab yang mendahuluinya, tidak pula ada natijah (hasil) tanpa pendahuluan-pendahuluannya.

Terjadinya alam semesta ini dari tidak ada berarti adanya sesuatu yang disebabkan (musabbab) tanpa ada sebabnya, atau adanya hasil tanpa pendahuluannya. Yakni alam semesta ini ada dengan sendirinya dan muncul dengan terputus dari sebabnya.

Adanya sesuatu dengan sendirinya dan terputus dari sebab-sebabnya menurut akal yang sehat dan kenyataan adalah mustahil. Sebab hal itu berarti memenangkan sisi keberadaan atas sisi ketidakberadaan tanpa bukti yang dapat digunakan untuk memenangkannya. Padahal memenangkan sisi keberadaan tanpa bukti yang dapat digunakan untuk memenangkannya adalah mustahil.

Sesungguhnya apabila kita menyatakan bahwa alam semesta ini ada karena dirinya sendiri dan terputus dari sebabnya, maka hal itu berarti sama dengan ucapan kita bahwa tidak ada itulah yang menjadi sebab eksistensi. Perkataan seperti itu sangat keliru dan gugur karena “tidak ada” tidak mungkin menjadi sumber bagi “eksistensi”. “Yang tidak punya sesuatu tidak akan dapat memberi”. Inilah hal yang diisyaratkan oleh firman Allah dalam kitab suci Al-Qur’an:

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi? Sebenarnya mereka tidaklah meyakini apa yang mereka katakan.” (QS. Ath-Thuur [52] : 35-36)

Maksud ayat di atas adalah apakah mereka ada tanpa pencipta? Ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri sehingga mereka tidak memerlukan pihak yang menciptakan mereka? Ini semua mustahil terjadi.

Selanjutnya marilah kita bicarakan kemungkinan kedua. Kemungkinan yang kedua ini jauh lebih besar kerancuannya dibanding kemungkinan yang pertama. Sebab sesuatu yang terjadi secara kebetulan tidak akan dapat tersusun secara teratur dan serapi ini, dan tidak akan terwujud dengan sempurna sebagaimana yang kita saksikan ini.

Apakah “kebetulan” itu dapat menciptakan laki-laki dan perempuan atau jantan dan betina serta mempertautkan antara keduanya dengan hubungan yang seindah ini?

Apakah “kebetulan” itu yang telah menciptakan bumi dan seisinya seperti manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda padat? Apakah ia juga yang menggantungkan bumi di udara (cakrawala) dan menjalankannya untuk berputar mengelilingi sumbunya, yang tidak pernah bergeser sedikitpun walau hanya sehelai rambut sejak berjuta-juta tahun yang lalu?

Apakah “kebetulan” juga yang mengedarkan planet-planet dan bintang-bintang sedemikian besar dan banyak sekali dengan kecepatan luar biasa tanpa pernah mengalami tabrakan antara satu sama lain?

Apakah “kebetulan” juga yang mewujudkan unsur-unsur yang membentuk alam semesta ini, dan menjadikannya begitu serasi dengan keserasian yang cermat sehingga ia bisa berjalan terus dan kekal sampai batas waktu yang dikehendaki oleh Allah?

Sesungguhnya atom yang merupakan benda sangat kecil, membuat akal pikiran manusia dan ilmu pengetahuan bingung dalam menganalisa susunannya yang begitu sempurna dan keserasiannya yang begitu mengagumkan. Apakah susunannya, keterkaitannya dan keserasiannya juga karena kebetulan?

Marilah kita dengarkan pernyataan ilmu pengetahuan tentang atom ini:
“Suatu benda tersusun dari atom-atom yang karena kecilnya tidak dapat dilihat meskipun dengan menggunakan alat pembesar terkuat (mikroskop). Agar kita dapat membayangkan bentuk atom (yang kecil itu) maka kita harus membayangkan seandainya kita menyusun seratus juta buah atom dengan menumpuknya satu sama lain niscaya panjangnya hanya mencapai kira-kira satu inchi. Dan sebagai gambaran dari sisi yang lain, dalam setetes air laut terdapat lima puluh juta atom dari emas.
Atom terdiri dari inti yang disekelilingnya berputar listrik bermuatan negatif yang disebut elektron-elektron dalam garis edar membulat. Antara dua buah elektron ini terdapat ruangan kosong yang menyerupai ruangan kosong antara planet-planet dan matahari, dilihat dari segi perbandingan antara bentuk dan jarak jauhnya.
Inti atom paling ringan bobot timbangannya mencapai 1850 kali timbangan elektron. Andaikata dua puluh ribu inti atom disusun rapi berdampingan satu sama lain, niscaya panjang daerahnya mencapai  daerah atom itu; atau dengan kata lain perbandingan inti bila diukur dengan atom adalah seperti kepala jarum peniti bila dibandingkan dengan sebuah rumah berukuran sedang.
Elektron-elektron berputar mengelilingi inti dalam garis-garis edar seperti halnya garis-garis edar planet-planet ketika berputar mengelilingi matahari, akan tetapi tempat-tempat berputar itu lebih sensitif dan lebih sedikit batasnya (mudah lepas) daripada garis-garis edar planet-planet itu. Andaikata suatu benda yang tersusun dari inti atom ditumpuk dengan lainnya, yakni tanpa adanya ruang kosong yang ada diantara inti dan elektron-elektron  niscaya timbangan sepotong uang logam sebesar dua ketip kira-kira mencapai sekitar empat puluh juta ton.
Inti tersusun dari listrik bermuatan positif (proton), yang jumlahnya sama dengan jumlah listrik yang bermuatan negatif (elektron) yang berputar mengelilingi inti.
Disamping proton-proton ini, terdapat juga listrik-listrik lain yang bermuatan pertengahan yang disebut neutron. Andaikata kita dapat menguraikan ikatan yang mengikat antara proton-proton dan neutron-neutron ini, atau dengan kata lain andaikata kita dapat menyediakan jalan untuk melenyapkan neutron sebuah saja dari kumpulan neutron-neutron yang mengelilingi proton, maka pada saat itu pasti timbul suatu kekuatan yang dahsyat sekali. Profesor Einstein adalah orang pertama yang memperkirakan bahwa kekuatan itu sama dengan himpunan dalam segi empat kecepatan sinar yang diperkirakan dengan senti meter kali dua setiap detiknya.
Bila kita berpindah dari masalah atom dan mengangkat kepala ke atas untuk melihat matahari maka kita akan melihat ilmu pengetahuan yang menyatakan:
“Matahari adalah benda yang bulat berbentuk bola yang menyala-nyala penuh berisi api yang lebih dahsyat dari semua api yang ada di bumi. Ia jauh lebih besar dari bumi, lebih dari sejuta kali. Adapun jaraknya dengan kita sejauh 92,5 juta mil. Demikianlah keadaan matahari itu, dan ia tiada lain kecuali sebuah bintang, dan tidak termasuk dalam bilangan bintang-bintang yang besar.”
Ada satu persoalan (mengenai matahari ini) yang pemecahan finalnya benar-benar menyulitkan akal pikiran para ilmuwan maupun para ahli astronomi, yaitu bahwa matahari sebagaimana diambil dari ilmu lapisan bumi, senantiasa memancarkan panas dengan ukuran yang sama selama berjuta-juta tahun. Jika panas yang ditimbulkan itu hanya karena akibat terbakarnya matahari, bagaimana mungkin bahannya tidak habis padahal sudah berjalan sekian masa? Maka tidak diragukan lagi bahwa cara pembakaran yang berlaku padanya tidaklah sama dengan cara yang biasa dikenal manusia. Sebab, jika tidak demikian niscaya pembakarannya itu cukup enam ribu tahun saja, dan selanjutnya panasnya hilang.

Adapun keutamaan dan keistimewaan matahari yang diberikan kepada kita bahwa matahari bukanlah sekedar menjadi sumber cahaya dan api bagi kita semata melainkan ia merupakan sumbu dari tata surya yang berjalan dan menjadi sumber kehidupan kita. Matahari itulah yang menguapkan air laut, dan mengangkatnya ke atas kemudian beralih menjadi awan dan selanjutnya berubah menjadi hujan yang diturunkan ke bumi ini, dari situlah timbul saluran-saluran air dan sungai-sungai besar maupun kecil yang mengalir untuk mengairi tanaman, tumbuh-tumbuhan dan pekarangan kita sehingga dapat berkembang. Dia juga yang meniupkan angin dan menggerakkan angin topan yang menyebabkan timbulnya gelombang lautan dan udara menjadi bersih dan jernih. Dia pula yang menggerakkan kapal-kapal dan perahu-perahu di samudera luas. Dia pula yang menjalankan kendaraan-kendaraan dan memutar mesin-mesin uap. Arang batu (yang dipergunakan untuk menggerakkan mesin uap) itu tidak lain kecuali berasal dari panas cahaya matahari yang terpendam sejak bertahun-tahun yang lampau untuk diambil manfaatnya oleh putra-putra bangsa yang datang kemudian.

Andaikata tidak ada matahari, niscaya tidak ada kehidupan bagi makhluk hidup, dan tidak pula tumbuh-tumbuhan. Makhluk-makhluk hidup dapat bergerak dan berdiri karena panas matahari. Burung-burung berkicau karena cahayanya, semuanya bertasbih kepada Tuhannya. Dan karena panas serta cahaya pula, tanaman-tanaman tumbuh dengan subur, pohon-pohon kian hari kian bertambah besar, bunga-bunga mekar dengan indahnya, dan buah-buahan menjadi masak. Kita semua, umat manusia pun berhutang kepada matahari, karena makanan dan minuman kita bergantung kepadanya. Ia merupakan sebab keberadaan kita di planet bumi ini.

Selanjutnya apabila persoalan matahari kita lewatkan, maka kita akan menemukan bahwa:

Bintang yang paling dekat dengan kita sesudah matahari jauhnya sama dengan 260 ribu kali jauhnya matahari dengan bumi kita. Ini terhitung sebagai sesuatu yang sangat kecil sekali bila dibandingkan dengan bintang-bintang Bimasakti yang oleh orang-orang zaman dahulu kala disebut The Milky Way. Bahkan keseluruhan tata surya kita ini dianggap sebagai sebuah atom jika diukur dengan Bimasakti, karena ia menghimpun seratus juta bintang yang terpencar pada sebuah bidang menyerupai bulatan dasar yang relatif lembut.

Herbert Spencer Johns, pengarang buku “Ilmu Falak Umum” berkata : Sesungguhnya cahaya menghabiskan waktu 10.000 tahun untuk bisa mencapai kedua ujung bintang Bimasakti. Sedangkan cahaya berjalan dengan kecepatan 176.000 mil per detik, atau 300.000 km per detik. Atas dasar keterangan ini maka ukuran cahaya setahun sama dengan 10 biliyun km.

Bintang Bimasakti yang besarnya telah mencapai batas sebagaimana kita uraikan di atas, dimana akal manusia tidak mampu mengetahuinya itu tiada lain kecuali salah satu dari sekian banyak bintang-bintang yang ada di cakrawala yang jumlahnya tidak terhitung.

Masih ada yang perlu kita ketahui, bahwa tata surya yang terdekat dengan tata surya kita ini jaraknya sejauh 700 ribu tahun cahaya.

Sesudah kita mengetahui uraian di atas, apakah akal pikiran kita dapat menerima semua itu terjadi hanya karena kebetulan tanpa ada yang menciptakan dan mengaturnya?

Sesungguhnya anggapan “kebetulan” mengenai penciptaan alam semesta sama sekali tidak dapat diterima oleh akal pikiran dan tidak diakui atau didukung oleh ilmu pengetahuan. Dan tidak pula dikatakan oleh manusia kecuali bila ia telah kehilangan ciri khususnya sebagai manusia yang paling khusus, yakni kemampuan berpikir, menemukan dan membedakan yang benar dan yang salah.

Seorang filosof berkebangsaan Jerman, Edward Harenman dalam bukunya “Aliran Darwin” mengatakan: “Sebenarnya pendapat yang mengatakan tidak ada kesengajaan pada keberadaan alam semesta menurut para pengikut aliran Darwinisme itu tidaklah mempunyai bukti. Itu hanya timbul dari angan-angan yang tidak mempunyai landasan ilmu pengetahuan.”

Dr. Von Bayer dari Jerman dalam bukunya ”Sanggahan terhadap Pendapat Darwin” mengatakan: Apabila para pengikut aliran Darwinisme mengumumkan dengan lantang bahwa tidak terdapat kesengajaan pada keberadaan alam, atau dengan kata lain bahwa alam semesta ini ada karena tuntutan-tuntutan buta, maka saya berkeyakinan bahwa di antara kewajiban saya mengenai hal itu adalah menyatakan bahwa saya berkeyakinan sebaliknya. Saya berpendapat bahwa semua tuntutan ini mengungkapkan berbagai tujuan yang luhur.”

Dr. Muhammad Farid Wajdi sesudah menyebutkan pembicaraan terakhir ini menyatakan : Andaikata kita ingin memperoleh keputusan dengan beratus-ratus keterangan dari pemuka ilmu pengetahuan dan filsafat tentang tidak adanya kesengajaan pada penciptaan, tentulah kita dapat dengan mudah mengutipnya.

Apabila sudah terbuktikan bahwa alam semesta ini ada karena “kesengajaan”, maka terbukti pula adanya Dzat Yang Maha Mengatur, Yang Maha Bijaksana Jalla Wa’ala, melalui jalan yang dapat dirasakan dan tidak dapat dibantah lagi, sesuai firman Allah:

“Apakah mengenai Allah ada keraguan, yakni Dzat Pencipta langit dan bumi.” (QS. Ibrahim [14] : 10)

Apabila kemungkinan pertama dan kemungkinan kedua terbukti tidak benar karena keduanya keluar dari wilayah akal, logika dan ilmu pengetahuan, maka sekarang tinggallah kemungkinan yang ketiga, yaitu bahwa alam semesta ini ada yang menciptakan dan mengaturnya. Dan inilah yang sesuai dengan akal pikiran, logika dan ilmu pengetahuan. Pendapat ini pula yang mendorong Socrates untuk beriman kepada Allah, dan mampu membungkam Aristophanes yang mengingkari adanya Tuhan Pencipta dalam dialog berikut ini:

Socrates : Adakah orang-orang yang kamu kagumi karena kemahirannya dan keindahan hasil-hasil karyanya?

Aristophanes : Ada. Aku mengagumi Homero dalam syair-syair ceritanya, dan aku mengagumi Zoxes dalam bidang lukisan, dan aku mengagumi Polextic dalam bidang pembuatan patung-patung.

Socrates : Pencipta-pencipta manakah yang patut dikagumi? Apakah yang menciptakan gambar-gambar tanpa akal dan tidak akan bergerak sama sekali ataukah yang menciptakan makhluk-makhluk yang berakal dan hidup?

Aristophanes : Sudah barang tentu lebih kagum terhadap pencipta yang menciptakan makhluk-makhluk yang berakal dan hidup, jika hal itu bukan dari hal-hal yang terjadi karena kebetulan.

Socrates : Apakah mungkin hal itu terjadi karena kebetulan jika sekiranya anggota-anggota tubuh ini diberi kemampuan untuk maksud-maksud dan tujuan-tujuan tertentu? Umpamanya mata diberi kemampuan untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, dan lidah untuk merasakan. Mata diliputi dengan alat-alat perlindungan karena sangat sensitif dan lemah. Maka ia dapat ditutup karena tidur atau ketika diperlukan. Juga dilindungi dengan bulu-bulu mata dan alis. Untuk telinga diberi peralatan bagian luar yang menampung suara agar dapat ditangkap. Mungkinkah semua itu karena kebetulan?

Demikian pula halnya kecenderungan untuk mempunyai keturunan yang diletakkan di dalam hati, rasa cinta yang mendalam yang ada dalam hati ibu-ibu terhadap anak-anaknya, sekalipun jarang sekali seorang anak dapat memberikan manfaat kepada bapak dan ibunya, dan bayi yang begitu lahir mengetahui cara menyusu pada ibunya.

Apakah mungkin ini semua terjadi secara kebetulan?

Aristophanes : Oh tidak. Sesungguhnya hal itu menunjukkan adanya pencipta dan juga menunjukkan bahwa penciptanya itu Maha Agung yang mencintai makhluk hidup. Akan tetapi mengapa kita tidak dapat melihat pencipta?

Socrates : Anda juga tidak dapat melihat roh Anda sendiri yang menguasai anggota tubuh Anda. Apakah karena Anda tidak dapat melihat roh Anda, berarti kita tidak boleh mengatakan bahwa perbuatan Anda timbul karena kebetulan dan tanpa kesadaran? Sudah barang tentu tidak.

Demikianlah dialog antara dua orang ahli filsafat itu. Maha Benar Allah yang Maha Agung yang telah berfirman:

“Dan diantara tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah malam dan siang, matahari dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, akan tetapi bersujudlah kamu kepada Allah yang telah menciptakan (semua)nya jika kamu benar-benar menyembah-Nya.” (QS. Fushilat [41] : 37)


Aqidah Islamiyah - Sayyid Sabiq
Sumber : Hasan Al Banna

Mohamad Hasan Al Banna

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment