Wednesday, September 1, 2010

Mengapa dan untuk apa kita Sholat?

(Sebuah tulisan yang pernah saya kirim ke salah satu milis. Saya coba share lagi di sini. Semoga bermanfaat..)

Bismillah,

Salah satu metode yang saya gunakan ketika mengajar adalah metode bertanya, karena dengan metode ini siswa didik diajak untuk berpikir, untuk mencari, dan menyampaikan kepada orang lain hasil yang telah dia peroleh.

Mengapa dan untuk apa kita shalat ? Ini adalah pertanyaan yang saya ajukan ketika mengawali pelajaran fiqih tentang shalat kepada
anak-anak didik saya. Ternyata jawaban mereka beragam. Anak-anak SD menjawab,‘Kan itu perintah Allah, Bu..?(maksudnya kita harus melaksanakannya, red.), Supaya dapat pahala, Bu.., Agar disayang Allah, Bu…Anak SMP menjawab agak panjang,katanya shalat itu diibaratkan tiang penyangga suatu bangunan Islam, sehingga jika kita tidak shalat, kita telah meruntuhkan bangunan tersebut..

Hm…, jawaban yang tidak salah, bukan ? sesuai dengan ‘persepsi’ mereka masing-masing.

Dan, jika saya mengajukan pertanyaan yang sama kepada Anda , dapat dipastikan jawabannyapun akan tidak sama. Saya tidak menyangsikan lagi jawaban anda semua apalagi yang telah mengikuti pelatihan shalat khusyu dan melaksanakannya…

Baiklah, untuk menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya jika kita melihat latar belakang/sejarah bagaimana Rasulullah mendapat perintah shalat lima waktu ini langsung dari Allah yang Maha Mulia dan Maha Tinggi.
Tulisan ini saya cuplik dari buku Jalan Cinta Para Pejuang yang ditulis oleh Salim A. Fillah. Saya cuplik tulisannya karena itulah yang ingin saya sampaikan.(Terimakasih untuk akhi Fillah dan mohon ma’af tulisannya saya pakai sebagian di milis ini).
...
BURAQ namanya. Maka ia serupa barq, kilat yang melesat dengan kecepatan cahaya. Malam itu diiringi Jibril, dibawanya seorang Rasul mulia ke Masjidil Aqsha. Khadijah, istri setia, lambang cinta penuh pengorbanan itu telah tiada. Demikian juga Abu Thalib, sang pelindung penuh kasih meski tetap enggan beriman. Ia sudah meninggal. Rasul itu berduka. Ia merasa sebatang kara. Ia merasa sendiri menghadapi gelombang pendustaan, penyiksaan, dan penentangan terhadap seruan sucinya yang kian meningkat seiring bergantinya hari. Ia merasa sepi. Maka Allah hendak menguatkannya. Allah memperlihatkan kepadanya sebagian dari tanda kuasaNya.

Buraq namanya. Ia diikat di pintu Masjid Al Aqsha ketika seluruh Nabi dan Rasul berhimpun di sana. Mereka shalat. Dan penumpangnya itu kini mengimami mereka semua. Tetapi dari sini Sang Nabi berangkat untuk perjalanan yang menyejarah. Disertai Jibril ia naik ke langit, memasuki lapis demi lapis. Bertemu Adam, Yahya serta Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa, dan Ibrahim. Lalu terus ke Sidratul Muntaha, Baitul Ma’mur, dan naik lagi menghadap Allah hingga jaraknya kurang dari dua ujung busur. Allah membuka tabirNya..

Allah.. Allah.. Jika melihat Yusuf yang tampan sudah membuat hati para wanita teriris mati rasa, apa gerangan rasa melihat Sang Pencipta yang Maha Indah? Atau katakan padaku sahabat, apa yang kau rasakan melihat Ka’bah yang mulia untuk pertama kalinya? Ya, sebuah ekstase. Kita haru. Kita syahdu. Air mata menitik. Raga terasa ringan. Jiwa kita penuh. Mulut kita ternganga. Maka apa kira-kira yang dirasakan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ketika ia mi’raj bertemu Rabbnya? Kesyahduan, keterpesonaan. Kesejukan. Kenikmatan ruhani. Kelegaan jiwa. Tiada tara. Tiada tara. Tiada tara.
Demi Allah, alangkah indahnya, betapa nikmatnnya..

Di saat mengalami puncak ruhani itu, tentu ada goda untuk bertahan lama-lama di sana. Kalau bisa kita ingin menikmatinya selamanya. Atau setidaknya mengulanginya. Lagi dan lagi. Kesyahduan yang tak terlukiskan, ruhani yang terasa penuh, berkecipak, mengalun. Jiwa yang tepana bagaikan titik air menyatu dengan samudra, kedirian kita hilang lenyap ditelan kemualiaan dan keagungan Ilahi. Kita ingin mereguknya, menyesapnya, lalu rebah, dipeluk, direngkuh, dan menyandarkan hati di situ saja. Selama-lamanya.
Kenikmatan ruhani. Kekhusyuan batin. Kita pasti ingin menikmatinya selalu. Kita menghasratkannya tiap waktu.
Tapi justru di situlah salahnya.
Justru di situlah kekeliruan terbesar kita.

(Lho.? Saya mengernyitkan dahi ketika membacanya..)
.....
Coba tengok perjalanan mi'raj Sang Nabi. Ia tidak terjadi setiap hari. Ia terjadi sekali, hanya ketika deraan rasa sakit, badai kepiluan, dan himpitan telah melampaui daya tahan kemanusiaan. Ia terjadi ketika Rasul merasakan puncak kepayahan jiwa; da'wah yang ditolak, seruan yang diabaikan, pengikut yang tak seberapa, sahabat-sahabat yang disiksa, dan para penyokong utama satu demi satu mencukupkan usia. Maka satu hal yang kita maknai dari perjalanan mi'raj adalah, bahwa ia sekedar sebuah waqfah. Ia sebuah perhentian sejenak. Sebuah oase tempat sang Nabi mengisi ulang perjalanannya. Bekal perjuangannya.

Mi'raj bukanlah titik akhir dari perjalanan itu. Merasakan kenikmatan ruhani yang dahsyat bukanlah tujuan dari perjalanan hidup dan risalahnya. Itulah yang membuat Sang Nabi dan Sang Sufi bertolak belakang. Jika Sang Sufi memandang ekstase kenikmatan ruhani itu sebagai tujuan hidupnya. Sang Nabi sekedar menjadikannya sebuah rehat. Sejenak mengambil kembali energi ruhani, mengisi ulang stamina jiwa. Sesudah itu dunia menantinya untuk berkarya bagi kemanusiaan. Dan ia pun, kata Muhammad Iqbal dalam Ziarah Abadi, menyisipkan diri ke kancah zaman.

Padaku malaikat menawarkan,
"Tinggallah di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kamii
Bersama kenikmatan-kenikmatan suci"
"Tidak!", kataku, "Di bumi masih ada angkara aniaya
Disanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban
Hingga batas waktu yang telah ditentukan".
...
Inilah jalan cinta para pejuang. Para penitinya bukanlah para pengejar ekstase dan kenikmatan ruhani. Mereka adalah pejuang yang mengajak pada kebaikan, memerintahkan yang ma'ruf, mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah. Dalam kerja-kerja besar itu, terkadang mereka merasa lelah, merasa lemas, merasa terkuras. Maka Allah menyiapkan mi'raj bagi mereka. Sang Nabi yang cinta dan kerja da'wahnya tiada tara itu memang mendapatkan mi'raj istimewa; langsung menghadap Allah 'Azza wa Jalla. Kita, para pengikutnya, berbahagia mendapat sabdanya, "Saat mi'raj seorang mukmin adalah shalat!".

Shalat kata Sayyid Quthb , adalah hubungan langsung antara manusia yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber yang tak pernah kering. Ia adalah kunci perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realita bumi yang kecil menuju realita alam raya. Ia adalah angin, embun, dan awan di siang hari bolong nan terik. Ia adalah sentuhan yang lembut pada hati yang letih dan payah.

Maka shalat adalah rehat. Ketika tulang-tulang terasa berlolosan dalam jihad, rasa kebas di otot dan kulit berkuah keringat. Sang Nabi bersabda pada muadzinnya, "Yaa Bilal, arihna bish shalaah.. Hai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat!"

Salam,

Sumber : Ruang Muslim

Mohamad Hasan Al Banna

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment