Thursday, September 2, 2010

Pelajaran berharga dari kakek penjual sepatu bekas

Semasa aktif kuliah di salah satu sekolah tinggi swasta di daerah bandung, setiap kali pulang kuliah saya selalu menyengajakan diri berjalan-jalan di sekitar kawasan gedung Merdeka Bandung. Ada hal yang membuat saya senang berjalan-jalan di kawasan itu. Selain menikmati suasana hiruk pikuk kota yang padat dengan laju kendaraan, dan mengunjungi Koran tempel Harian Pikiran Rakyat (saya menyebutnya Koran tempel, karena memang di tempel di papan informasi kantor Pikiran Rakyat. Hehehe…) Ada yang lebih dari sekedar itu. Yakni sebuah pelajaran kehidupan dari seorang kakek tua yang setiap hari selalu menjajakan dagangan di trotoar gedung merdeka Bandung. Hanya beliau seorang diri, tak ada penjajak dagangan yang lainnya. Dan apa coba yang di jajakan oleh sang kakek tersebut???

Kalau saja yang dijajakan beliau adalah barang-barang yang termasuk kategori bagus atau baru mungkin tak jadi persoalan. Hanya saja yang dijajakan oleh sang kakek adalah sepatu-sepatu bekas yang secara kasat mata sangatlah tidak mungkin ada yang akan membeli. Namun nampaknya sang kakek sangat begitu yakin akan ikhtiarnya tersebut. Hampir setiap hari beliau selalu duduk membuka lapak disana. tetapi entah sekarang ini, sudah hampir dua tahun saya belum lagi berjalan-jalan di kawasan tersebut. Apakah sang kakek itu masih ada?? Entah lah.

Bercerita tentang sang kakek, maksudnya bukan sekedar cerita dzohir sang kakeknya. karena kalau dzohir sudahlah jelas dari perawakan pun beliau telah tampak renta. Akan tetapi ada hal yang menginspirasi bagi saya sehingga saya coba tulis disini. Yaitu, sang kakek telah mengingatkan saya tentang tugas kita untuk memaksimalkan /mengoptimalkan ikhtiar, mengajarkan tentang optimisme, motivasi, dan mengajarkan pada saya sebuah arti keyakinan terhadap anugerah dan rezeki dari Allah Subhanahu Wa Ta’la. Allah tidak akan pernah salah untuk memberikan rezeki bagi hamba-Nya. Yang paling penting adalah kita memaksimalkan ikhtiar dan terus ber ikhtiar. Sang kakek pun telah mencambuk hati dan diri saya supaya lebih tangguh, pantang untuk mengeluh, pantang berputus asa dan beliau menganugerahkan keberanian serta mengkikis habis perasaan gengsi yang terpendam selama ini dalam diri saya.

Diusianya yang sudah renta beliau masih bersemangat ikhtiar untuk kehidupannya. Dan mungkin untuk keluarganya. Terik matahari pun seolah-olah tak lagi terasa panas. Setiap harinya beliau begitu asyik menikmati ikhtiarnya tersebut.

Lalu bagaimana dengan kita???
Terkadang kita kalah oleh gengsi yang membatu, apalagi kalau ternyata kita berada dalam keluarga yang secara ekonomi tak begitu sulit. Kita selalu dikalahkan oleh sebuah utaian kalimat “masa saya harus begini..masa saya harus begitu, saya kan lulusan ini dan lulusan itu, saya kan anaknya pulan dan pulanah. ‘ngga mungkin dong saya harus menggelar lapak di emperan toko, ‘ngga mungkin saya harus mengasong ataupun menjajakan dagangan. Maaf kayaknya itu bukan untuk aku deh..” Banyak sekali pembelaan diri yang diakibatkan oleh benteng tangguh yang namanya gengsi.Pernahkah kita coba berpikir bagaimana ikhtiar orang tua kita sebelum beliau seperti yang kita rasakan sekarang ini selaku keturunannya. Pernahkah kita mencari tahu bagaimana perjuangan ikhtiar orang tua kita sehingga hasilnya yang sekarang kita nikmati. Jadi mengapa kita tidak berikhtiar seperti halnya perjuangan orang tua kita sebelum seperti sekarang ini. Kenapa kita tidak memulai ikhtiar minimal untuk kehidupan kita sendiri.

Kalau pun kita tidak kalah oleh gengsi terkadang pula yang memukul KO kita adalah pesimis. Pesimis membuat semangat cepat melemah. Apalagi, tatkala satu atau dua kali ikhtiar kita mendapat penolakan. Ya…kita masih kalah oleh kakek penjual sepatu bekas tersebut dong. Kakek itu sudah barang tentu lebih banyak yang menolak bahkan tidak melirik barang dagangannya dari pada yang sebaliknya.

Mohon maaf tulisan ini bukan bermaksud untuk mengarahkan anda menjadi seorang pedagang asongan atau penjajak lapak, kalau memang anda dapat berikhtiar lebih dari hal itu sesuai dengan kemampuan anda kenapa tidak. Yang terpenting adalah bagaimana melepaskan bayang-bayang gengsi dalam diri anda. Dan memupuk rasa optimisme. Tetapi tidak ada salahnya juga kalau anda pun menjadi pedagang asongan atau penjajak lapak di emperan jalan. Apa salahnya coba. Sama-sama ikhtiar yang penting halal dan tidak merugikan orang lain. Dan sekiranya menjadi pedagang asongan atau menggelar lapak di emperan jalan perlu juga kita coba sebagai terapi mentalitas dan pendobrak gengsi yang sudah terlalu membeku dalam diri kita, karena selama ini kita telah di buai oleh kenikmatan yang diperoleh dari orang tua atau kalau kita sebagai pekerja, kenikmatan yang diperoleh dari penghasilan sebagai karyawan. Walaupun kenikmatan yang diperoleh sebagai karyawan bukan sebuah kenikmatan yang didapat begitu saja yakni didapatkan melalui perjuangan pula, apalagi yang bekerja dengan system shift. Namun dalam hal ini kita perlu tahu bahwa tak selamanya orang tua kita akan terus menjadi tulang punggung bagi kehidupan kita atau tak selamanya kita akan selalu menjadi karyawan. Akan ada saatnya dimana posisinya berbalik kita yang harus menjadi tulang punggung bagi orang tua dan masa kita menjadi seseorang yang memberikan penghasilan bagi karyawan.

Kapan itu saatnya????. Anda lah yang tahu.
Hanya saja kalau tidak dimulai dari sekarang, lalu kapan lagi. Usia kita semakin hari semakin bertambah. Jadi, kini saatnya kita memulai membangun usaha untuk kehidupan kita dan keluarga dimasa yang akan datang. Jangan sampai di usia renta kita masih juga berpeluh keringat berikhtiar yang berlebihan. Mulailah membangun usaha dari sekarang, karena tak ada sebuah usaha yang instan maju pesat. Semuanya perlu proses, dan proses itu seyogianya dimulai saat ini. Menunggu apalagi?? Mulai lah dengan sesuatu yang bisa kita lakukan. Kalau kita ternyata baru bisa untuk berjualan sebagai pengasong lakukan itu dengan senang hati. Mungkin suatu hari nanti kita bukan yang langsung terjun sebagai pengasong tetapi menjadi pemasok bagi mereka para pengasong.

Sebagai tambahan, didaerah tempat tinggal saya ada pendatang baru dari jawa tengah beliau awalnya menjadi pedagang baso dengan menggunakan roda. Karena ulet dan gigih beliau coba membuat sendiri. Lalu, beliau mengajak saudaranya dari jawa untuk berjualan dan beliau hanya memproduksinya. Kini beliau sudah bukan lagi sebagai pedagang secara langsung akan tetapi menjadi Bos bagi para pendagang baso. Mungkin di sekitar anda pun ada contoh-contoh dari seseorang yang berawal dari sekedar pedagang dan akhirnya menjadi bos bagi para pedagang. Dan kita pun pasti bisa seperti itu. Tidak menutup kemungkinan. Yang terpenting ayo kita mulai dari sekarang!!!!

Sumber : Ruang Muslim

Mohamad Hasan Al Banna

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment