Thursday, November 10, 2011

Kita bahagia untuk apa?



Majalah Muslim - Tujuan utama setiap insane hidup didunia ini adalah untuk mencari kebahagiaan, baik yang kaya materi maupun yang tidak. Meskipun kebanyakan manusia meng identikkan kebahagiaan itu dengan banyaknya harta yang dimiliki, namun sebenarnya banyak juga kita lihat orang kaya yang hidup tidak tenang dan merasa kesusahan, sementara ada juga orang yang kurang mampu, menikmati hidupnya dengan penuh kebahagiaan.

Nilai relatif dari kebahagiaan inilah yang harus membuat manusia hati hati dalam menyikapi hidup. Karena tidak jelasnya tolok ukur dalam menentukan nilai kebahagiaan yang sesungguhnya, mengakibatkan nilai dari kebahagiaan itu amat susah untuk ditentukan.

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (QS Al Kahfi 18 : 46)

Begitu absurdnya cara menentukan letak kebahagiaan itu membuat sebagian manusia berambisi untuk memenuhi dirinya dengan nafsu, hanya demi mencapai kebahagiaan yang diinginkannya. Sehingga mereka kadang menggunakan jalan-jalan yang terlarang, bahkan mereka berani melakukan tindak kejahatan ...

Namun apa yang mereka lakukan itu ternyata tidak pernah menemukan kepuasan dan kebahagiaan, kalaupun sepintas ia merasa menemukannya tetapi itu hanyalah semu dan sesaat kemudian sirna kembali, tidak langgeng dan mendalam sampai ke lubuk hati. Bahkan semakin ia kejar kepuasan tersebut akan terasa semakin banyak pula kepuasan yang belum ia raih. Ia seperti mengejar bayang-bayang yang tak pernah kesampaian.

Untuk itu Islam senantiasa memberi peringatan kepada kita agar tidak menjadikan nafsu sebagai ukuran dalam menentukan kebahagiaan hidup. Bahkan kita harus waspada terhadap nafsu, karena nafsu selalu cenderung menggiring kita untuk melakukan perbuatan yang buruk. Nafsu memang ada manfaatnya bagi kita bilamana dikendalikan dengan baik, antara lain bisa memberi semangat kerja serta semangat untuk beramal yang positif. Tetapi bila tak terkendali maka nafsu itu akan menyeret kita kepada perbuatan yang buruk.

Karena itu hendaklah kita kendalikan nafsu dengan baik, kita bimbing dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, serta senantiasa kita waspadai bahaya laten nafsu yang tak mungkin bisa kita hilangkan itu. Insya Allah dengan demikian kepuasan dan kebahagiaan hidup yang hakiki dapat kita peroleh.

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang (QS Yusuf 12 : 53)

Sebenarnya yang paling sering menjadikan gagalnya seseorang dalam mencapai kebahagiaan ialah karena tidak punya pegangan hidup atau salah dalam memilih pegangan hidup. Hal ini menyebabkan ia terjebak ke dalam perjalanan hidup yang tak tentu arahnya dan akibatnya dia hanya mengejar kebahagiaan yang semu (fatamorgana). Akhirnya secara tak sadar ia akan terjerumus ke lembah kesengsaraan yang abadi.

Karena itu hendaklah dalam hidup ini kita mempunyai pegangan hidup yang jelas dan benar, serta senantiasa memperkokoh pegangan hidup tersebut jangan sampai terguncang oleh godaan-godaan yang ada di dunia ini. Allah subhanahu wata’ala telah mengajarkan kepada kita untuk selalu berpegang pada pedoman Al Qur’an dan Sunnah RasulNya.

Al Qur’an adalah Hudallinnas (petunjuk buat sekalian manusia) yang di dalamnya berisi pokok-pokok ajaran tentang berbagai bidang kehidupan. Ajaran filsafat, hukum, ekonomi, sosial bahkan politik dan teknologi.

Sedangkan Sunnah Rasulullah adalah penjelasan dari pokok-pokok ajaran tersebut agar kita dapat secara praktis mengikutinya.

Siapa yang berpegangan pada keduanya di jamin akan mendapat kebahagiaan hidup yang sejati dan abadi dan tidak akan sesat selama-lamanya.

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS Ali Imran 3 : 101)

Wallahu a’lam bishshawab …
@Fastabiqul Khairat

Mohamad Hasan Al Banna

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment