Monday, October 25, 2010

Stir Kanan Jalan Kiri

Masalah arah atau tujuan hanya benar tergantung kesepakatan. Jika sepakat ke utara maka kebenaran adalah milik yang bergerak ke utara. Selain utara adalah tujuan sesat. Sederhana sekali untuk urusan hidup berkelompok. Jika sepakat hari Minggu adalah waktu arisan maka jangan coba-coba datang selain hari itu. Dijamin tidak akan mendapat suguhan minuman dan kue arisan.

 Nah kawan saya kali ini datang mempermasalahkan setir kanan dan jalan kiri. Masalah bermula ketika ia melihat terjadi kemacetan di mana-mana. Macet di jalanan dan macet dalam pertumbuhan ekonomi. Lalu lintas menjadi kacau balau dan ekonomi hanya berputar-putar di tempat. Sistem budaya dan tata nilai seperti
benang kusut. Soal penegakan hukum dan hal asasi manusia seperti orkestra sumbang. Usut punya usut, masalahnya adalah karena kita mengambil jalan kiri. Jalan yang sesat.  Begitu kurang lebih ia memberi kesimpulan.

 "Coba kalau mengambil jalan kanan. Jalan kebaikan. Tentu tidak akan sesat dan macet disana-sini  …"

 "Lho kalau orang barat kan pakai jalan kanan. Apa karena itu mereka menjadi maju?" saya memberikan argumen sok pintar.

 "Nah itu dia. Mereka maju dalam satu hal. Tapi tetap saja akan sesat karena walau jalan kanan ia mempunyai setir kiri" Kawan saya menjawab dengan jawaban yang sangat pintar.

 "Saya sudah usulkan ke semua instansi terkait. Untuk menghindari kesemrawutan dalam berbagai hal, maka peraturan harus dirubah. Kita dalam bernegara harus mempunyai cara dan tujuan yang jelas. Serta ditempuh dengan jalan yang benar. Saya mengusulkan agar kita menggunakan setir kanan dan jalan kanan. Barang siapa yang tidak menggunakan aturan itu tidak boleh  berjalan dan berada di jalanan. Selain mereka adalah sesat, mereka juga akan menyesatkan" Ia melanjutkan penjelasan dengan sangat runut dalam satu hal tapi kacau dalam banyak hal.

"Maksud Anda, kita merubah setir mobil menjadi di kanan dan jalan di sebelah kanan? Apakah bisa menjamin kelancaran lalu lintas?" Saya bertanya untuk memastikan jawaban.

 "Lho. Ini bukan lalu lintas dan setir mobil. Kalau hanya lalu lintas itu urusan kecil. Anda boleh setir kanan atau kiri. Tapi soal kemacetan di jalan tidak ada hubunganya dengan posisi setir. Anda terlalu naif dan menyederhanakan masalah. Ini masalah besar. Bahwa kita semua tidak akan pernah sampai pada tujuan yang mulia jika menggunakan jalan yang sesat …"

 Saya jadi bingung apa yang dimaksudkan kawan saya itu. Dalam hati saya bertanya, sebenarnya siapa yang pikiranya sesat. Dia atau saya?


Sumber : Ruang Muslim

Mohamad Hasan Al Banna

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

0 comments:

Post a Comment